10/10/14

Perjuangan~

kita memang masih terlalu dini untuk mengerti apa itu waktu.
kita masih belajar menghirup apa itu udara.
kita masih belajar apa itu arti kehadiran seorang dua orang atau bahkan lebih yang sudah lama ada tapi mungkin sering terabaikan.
kita hanya butuh waktu untuk bisa menghargai apapun itu termasuk hidup kami yang sekarang.
tapi ternyata kita tidak mampu.
menangis mengais rindu pada pemiliknya,
dan kami sedang berjuang demi orang-orang yang disana.

dulu kita temen smansa dan temen osis. sekarang temen sekampus juga kosan :'D


Aku Kan Juga Masih Ingin Terbang~

masih belum tau gimana cara terbang kalau sayap aja masih sungkan mengembang. belum tau juga mau terbang kemana kalau langit aja masih belum ngasih tanda-tanda. masih ngerasa kalau ada sesuatu yang belum sampai ketempatnya. belum terdengar sampai telinga pemiliknya. semua masih samar.
pengennya terbang ke pohon itu. tapi pohon yang ini udah terlalu lama jadi tempat tinggal. udah agak banyak yang dibangun didalamnya. tapi kalau sayap gakpernah dikembangin, buat apa punya sayap?
mulai mikir. mulai ngerasa lebih tepatnya. ngerasa kalau masih punya hati yang gabisa dipenjara rasa kasian yang mendalam. enggak.
tapi burung kecil seterusnya tetap si burung kecil. yang enggan hinggap untuk merasakan pijakan lain. yang enggan terbang dalam langit yang penuh udara segar meski kadang akan menyesakkannya sendiri. harusnya dia bisa. entah kapan dan dengan cara yang bagaimana harus mengembangkan sayap, mulai terbang, tanpa memberatkan apa yang harus ia tinggalkan.


14/08/14

Rekapitulasi penyesalan kemarin, jatuh hari ini.



Aku pikir aku hebat. Aku pikir dari dulu sampai kapanpun akan seterusnya  gampang jadi bintang. Aku pikir ini gak bakal susah. Ya ini, hidup yang ternyata punya sejuta jalan yang tak terduga-duga. Bahkan aku yang merasa hebat sekalipun masih juga diperdaya waktu. Semua berawal sejak SMA. Dimana aku memulainya, dengan siapa dan bagaimana aku melakukannya.
Tempat baik bernama smansa telah membuka mataku lebar-lebar bahwa hidup gak selalu tentang menang, hebat, dan jadi bintang, ternyata. Aku pikir semua bisa kita kondisikan, bro. Tapi ternyata aku kalap, dan aku yang justru disetir oleh keadaan. Atau kalau mau lebih dalam lagi, takdir Tuhan mulai tak tahan ingin melahapku habis hingga bahkan tak menyisa. Aku mulai tau dan sadar perlahan siapa aku, dari mana aku, dan harus apa aku. Ya..ternyata merasakan satu kata sadar itu butuh waktu tiga tahun. Waktu dimana aku banyak bertemu dengan angka logaritma dan pascal. Atau stoikiometri juga simbiosis. Tapi sungguh saat ini aku sangat merindukannya :’)
Kamu akan benar-benar tau rasanya ketika semua usai. Ketika kamu berlari keujung karpet panjang yang menjulur dari ujung gerbang istana ke kursi raja,  seperti panjang rel kereta dipulau jawa, atau seperti putaran orbit bumi yang kalian sendiri tak pernah memimpikannya; lalu tengokkan sedikit kepalamu ke belakang. Sudah seberapa jaaauh kamu berlari. Sudah seberapa jauh kamu memberi jarak pada tempatmu berdiri dulu hingga sekarang. Ketika kamu tak sadar jika waktu selalu berputar tanpa sedikitpun kau curigai mengapa, kamu lupa.
Sama sepertiku. Aku telah disana, pernah melaluinya. Melalui kelupaan yang membuai dalam. Aku jatuh. Aku menyesal tidak pernah mencari tau mengapa jarum jam dinding dan jarum yang tak sampai se senti ditanganku itu tidak pernah berhenti berputar. Mereka mencari apa? Mencari angka 13?-_- bukan. Harusnya aku sudah dipukul oleh palu hakim sejak tiga tahun lalu. Ya, sejak pertama aku bertemu Pak Ganef. Bukan setelah aku terakhir bertemu map biru dan selembar kertas bertuliskan kata ijazah, bukan.
Terlambat. Bagiku, aku luput. Kurang tepat. Sungguh kurang tepat saja. Dan untuk membayar keteledoran itu, harus masih berjuang lagi memperjuangkan apa yang mengakar dihati untuk saat ini. Akhirnya aku memakan waktu lagi. Menghabiskan kuota waktu Tuhan yang berharga. Aku butuh waktu. Meminta-minta pada Tuhan untuk satu kata, waktu. Sudahlah. Semoga satu hal riskan kemarin akan terbayar besar di masa depan dengan penuh keridhoan-Nya. Amin..



27/02/14

nano-nano februari

selamat jumpa lagi dengan penulis amatir yang satu ini ya..
udah lama banget gapernah nulis ditempat ini. maklum, setelah netbuk item manis kuning langsat itu dicuri orang, udah ga begitu hapal lagi gimana cara login. bahkan gaktau apa itu google-_-
bulan februari ini bener-bener nano-nano. diawal bulan persis tanggal 1 udah dapet musibah aja. tengah-tengahnya udah ngerasa stres berat sama yang namanya kelas tiga. dan di akhir emang pas ditanggal 25 ultah sih, tapi kokya duahari setelahnya atau paling tepatnya hari ini itu rendom kembali akibat jurusan snmptn. sedih :'
gatau kenapa tiap lagi susah bisaaaa aja jadi sokbijak mendadak.
kita itu ya sering ngenilai orang lain dari cerita orang. sering ngeliat satu persatu kesalahan berturut-turut yang dilakuin orang ke siapapun itu jadi bumbu fitnah yang paling ampuh, sadar gaksih?
ternyata sakit ya digituin. sakit lo. rasain aja.
tapi apa boleh buat, mending ribet sekarang daripada ntar. tapi kok ya...kebanyakan tapinyaaaa aja-_-
tulisan ini emang gada bobotnya. iseng curhat aja buat tutup bulan yang katanya romantis ini. padahal sih menurutku ya sama aja :| entahlah~

salam manis dari sarjana sastra indonesia UI. heehe :DDD

Template by BloggerCandy.com